Media Persada, IAKARTA — Yayasan Rindang Indonesia memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus tasyakuran hari ulang tahun ke-16 dengan menggelar berbagai kegiatan sosial. Agenda tersebut meliputi santunan anak yatim, pemeriksaan kesehatan gratis, pentas seni hingga bazar UMKM.
Kegiatan berlangsung di Pusat Pelatihan Seni Budaya (Satpel Jakarta Timur), Minggu (6/9/2026), mulai pukul 08.30 WIB hingga selesai.
Peringatan Maulid Nabi dan milad ke-16 tersebut menjadi momentum bagi Yayasan Rindang Indonesia untuk memperkuat komitmen dalam bidang sosial, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan pembangunan kemandirian umat.

Sejumlah sesepuh, dewan penasihat, mitra, tokoh masyarakat, pecinta yatim, perwakilan dunia usaha, media serta organisasi yang selama ini mendukung kegiatan Rindang Indonesia turut menghadiri acara tersebut.
Di antaranya Dr. (c) A. Alamsyah, S.Pd.I., S.I.P., M.M., Aswar Wahab, P.D.A., dan Suparman, S.Pd.I., M.M., yang merupakan sesepuh sekaligus Dewan Penasihat dan Pecinta Yatim Rindang Indonesia.
Hadir pula Iptu Slamet Riyadi, S.H., sebagai sesepuh, serta Ustadz Kosasih, M.Si., Wakil Ketua Umum sekaligus Ketua DKM Masjid Al-Wahab.
Dari unsur dunia usaha hadir Mujiono, S.E., bersama sejumlah mitra dan pecinta yatim, termasuk Fitri, Heru dan Nanang dari Tetraci Indonesia.
Sementara dari bidang kesehatan hadir Ayudia Narisa Novitasari, Secretary to the Director Rumah Sakit Masmitra, bersama Nova Maria Sari, S.TP., dan Wiwid yang merupakan bagian dari jejaring Pecinta Yatim Rindang Indonesia.
Dukungan dari kalangan media dan komunikasi juga terlihat melalui kehadiran Nurkholis, C.P.L.A., dari Asistensi Media Nasional; Sastra Suganda, C.P.L.A., dari Berita Polri Independen; serta Moh. Hatta Tahir, S.Sos., dari InpoPedia.
Turut hadir Dr. H. Vathurrahman, S.E., M.M., selaku Founder Rindang Indonesia dan Pecinta Yatim, serta Ahmad Fadilah Sutarno, S.M., dari Pandu Wakaf Indonesia bersama rombongan.
16 Tahun Mengabdi dan Membangun Kemandirian
Ketua Umum Yayasan Rindang Indonesia, M. Adhie Pamungkas, mengatakan usia 16 tahun menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan lembaga sekaligus memperkuat arah pengabdian ke depan.
Ia mengatakan tema “16 Tahun Mengabdi, Menebar Manfaat, dan Membangun Kemandirian Umat” menjadi landasan bagi yayasan dalam mengembangkan berbagai program.
“Enam belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Di dalamnya ada perjuangan, doa, tantangan, pembelajaran, dan tentu saja dukungan dari banyak pihak yang tidak pernah berhenti membersamai kita,” ujar Adhie.
Selama perjalanan tersebut, Yayasan Rindang Indonesia mengembangkan sejumlah program sosial, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Dari sisi kelembagaan, yayasan telah memperoleh Akreditasi Lembaga Kesejahteraan Sosial dari Kementerian Sosial RI.
Dalam bidang pendidikan dan infrastruktur sosial, Rindang Indonesia telah membangun serta mengelola Istana Yatim tiga lantai, Masjid Al-Wahab dua lantai, serta fasilitas pembinaan anak yatim di Cariu, Bogor, dan Bojongsari, Indramayu.
Yayasan juga mulai mengembangkan aset produktif berupa lahan pertanian sekitar tiga hektare yang berada di Karawang dan Bogor.
“Aset bukan hanya untuk dimiliki, tetapi harus dikelola agar memberikan manfaat yang berkelanjutan,” kata Adhie.
Aswar Wahab Dorong Pengembangan Wakaf Produktif
Dewan Penasihat dan Pecinta Yatim Rindang Indonesia, Aswar Wahab, P.D.A., menyampaikan apresiasi atas perjalanan lembaga tersebut yang telah memasuki usia 16 tahun.
Ia berharap Rindang Indonesia terus berkembang dan konsisten menjalankan berbagai program sosial serta pemberdayaan masyarakat.
“Selamat ulang tahun yang ke-16. Terus maju dan jangan lelah. Saya akan terus bersama Rindang Indonesia,” ujar Aswar.
Aswar juga mendorong agar Rindang Indonesia memberikan perhatian lebih besar terhadap pembangunan ketahanan pangan sesuai dengan arah program pemerintah.
Menurutnya, pengelolaan lahan wakaf secara produktif dapat menjadi salah satu strategi untuk membangun kemandirian ekonomi sekaligus mendukung kebutuhan pangan warga binaan.
“Rindang Indonesia juga bisa berfokus dalam membangun ketahanan pangan sebagaimana program pemerintah, dengan lahan wakaf produktif,” katanya.
Ia berharap pengembangan lahan wakaf tidak berhenti sebagai kepemilikan aset, tetapi mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial secara berkelanjutan.
Iptu Slamet Berharap Rindang Terus Memberikan Manfaat
Sesepuh Yayasan Rindang Indonesia, Iptu Slamet Riyadi, S.H., menyampaikan harapan agar keberadaan yayasan terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga mengapresiasi para donatur yang selama ini turut menopang keberlangsungan program-program Rindang Indonesia.
“Terima kasih kepada seluruh donatur yang telah mendukung keberadaan Rindang sampai saat ini,” ujar Slamet.
Slamet mengatakan dirinya telah membersamai perjalanan Rindang Indonesia sejak 2010. Menurutnya, perjalanan panjang tersebut telah melalui berbagai tantangan hingga menghasilkan sejumlah capaian.
“Saya membersamai Rindang sejak 2010 sampai dua windu. Alhamdulillah, hari ini kita bisa melihat hasil pencapaian Rindang seperti sekarang,” katanya.
Ia berharap semangat pengabdian tersebut terus dipertahankan sehingga keberadaan Rindang Indonesia semakin dirasakan masyarakat.
Kembangkan Pendidikan Karakter dan Potensi Anak
Dalam bidang pendidikan, Yayasan Rindang Indonesia mengembangkan Model Pendidikan Karakter Integratif 3IS yang mencakup nilai agamais, nasionalis serta jiwa wirausaha dan bisnis.
Model pendidikan tersebut diarahkan untuk membentuk anak-anak yatim dan dhuafa agar memiliki karakter, kompetensi dan kemandirian dalam menghadapi masa depan.
Selain pendidikan karakter, pengembangan potensi anak dilakukan melalui kegiatan seni dan olahraga.
Yayasan Rindang Indonesia mencatat anak-anak binaannya telah meraih 11 kali juara tari tingkat Provinsi Jawa Barat dan nasional serta enam kali juara pencak silat tingkat Kota Bekasi dan Provinsi Jawa Barat.
Program Rindang Indonesia Jangkau Lebih dari 120 Ribu Penerima Manfaat
Dalam menjalankan program sosial dan kemanusiaan, Rindang Indonesia membangun kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, TNI-Polri, BAZNAS, LAZ, BUMN, organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, dunia usaha, media, LBH hingga komunitas.
Adhie menyebut saat ini terdapat sekitar 1.019 warga binaan yang didukung sekitar 100 civitas dan relawan.
Sementara berbagai program sosial dan kemanusiaan yang dijalankan disebut telah menjangkau lebih dari 120.000 penerima manfaat.
“Dampaknya pun terus bertumbuh. Sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW, Khairunnaas anfa’uhum linnas, kita terus berupaya menebar sebanyak-banyaknya manfaat untuk umat,” tuturnya.
Target 35 Hektare Wakaf Produktif pada 2030
Memasuki usia ke-16, Rindang Indonesia mulai mengarahkan programnya dari pola penyaluran manfaat menuju pembangunan kemandirian.
Hingga 2030, yayasan menargetkan pengembangan 35 hektare lahan wakaf produktif.
Lahan tersebut direncanakan menjadi bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan pangan, termasuk target produksi sekitar lima kilogram beras per orang setiap bulan bagi lebih dari 1.000 warga binaan.
Untuk jangka panjang hingga 2045, Rindang Indonesia menargetkan pengembangan hingga 1.000 hektare lahan wakaf produktif.
Lahan tersebut diharapkan dapat menjadi basis pengembangan ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, pendidikan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Milad ke-16 Ditandai Peluncuran Logo Baru
Peringatan milad ke-16 juga ditandai dengan peluncuran logo baru Yayasan Rindang Indonesia.
Menurut Adhie, perubahan identitas visual tersebut sekaligus menjadi simbol dimulainya fase baru perjalanan organisasi.
“Lebih profesional dalam tata kelola, lebih luas dalam kolaborasi, lebih produktif dalam pemberdayaan, dan lebih besar dalam memberikan manfaat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa usia organisasi bukan semata-mata diukur dari besarnya lembaga, tetapi dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada masyarakat.
“16 tahun mengabdi. 16 tahun menebar manfaat. Dan ke depan, bersama-sama kita bangun kemandirian umat dan bangsa,” kata Adhie.
Santunan Yatim hingga Layanan Kesehatan
Rangkaian kegiatan Maulid Nabi dan milad ke-16 Rindang Indonesia juga diisi dengan kegiatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Santunan anak yatim menjadi salah satu agenda utama. Selain itu, peserta dan masyarakat memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan.
Bazar UMKM turut digelar sebagai wadah bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan dan memasarkan produk mereka kepada masyarakat.
Pentas seni juga menjadi bagian dari kegiatan untuk memberikan ruang kreativitas bagi anak-anak sekaligus memperkuat apresiasi terhadap seni dan budaya.
Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni keagamaan, tetapi menjadi momentum memperkuat kepedulian sosial, kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi dan kebudayaan.
Memasuki windu kedua perjalanan organisasi, Yayasan Rindang Indonesia berharap dukungan donatur, mitra, relawan, pemerintah, dunia usaha, media dan masyarakat dapat terus diperkuat.
“Semoga setiap dukungan yang diberikan menjadi amal jariyah, menjadi keberkahan bagi para pemberi manfaat, dan menjadi jalan lahirnya generasi Indonesia yang agamais, nasionalis, mandiri, dan berjiwa wirausaha menuju Indonesia Emas 2045 dan 100 tahun usia kemerdekaan Indonesia,” pungkas Adhie.***
